Diary Duu
Sudah berapa hari ini saya kurang tidur, ya pasti pada bisa nebak kan alasannya? Saya sedang ngerjain Bab pertama Tugas Akhir saya (semoga bisa berjalan lancar). *dengan gaya super sombong* #pasangmukaganteng. Bagi saya, setiap hari adalah hari yang produktif, termasuk nge-blog kaya begini itu produktif lho... ada karya tulis yang dihasilkan *ngasal*. Awalnya cukup baik, saat semangat menggebu-gebu melototi jurnal, ebook dan bahan-bahan lainnya yang bisa buat otak saya mencerna “topik” TA yang saya angkat. Mulai deh saya sedikit mual dan muntah-muntah karena banyak dicekoki *istilah untuk kegiatan pemberian sesuatu yang berlebihan secara paksa, biasanya dipakai untuk memberi obat ke anak yang meraung karena menolak secara keras untuk meminumnya* semua hal tersebut. Tapi SEMANGAT INI TIDAK PERNAH PADAM! :D
By the way, isi blog ini lebih banyak curhatnya tentang saya melulu *padahal awalnya buat berbagi ilmu tentang pemrograman php, java, graphic design, dll. Pokoknya ilmu yang berguna aja deh, sebisa mungkin kita harusnya menyampaikan ilmu walaupun hanya sedikit*, kali ini saya menerawang jauh untuk mengimajinasikan jika keponakan saya yang paling kecil menulis diary tentang dirinya, kira-kira begini:
“ 3 Juli 2011
Dear buku harian bekas buku tulis Mas Angga…
Ini pertama kalinya aku menulis diary, orang-orang lebih suka nulis di-blog saat ini. Aku tak suka! Bagaimana mungkin aku mengetik tulisan di blog, diary adalah hal pribadi bagiku. T-I-T-I-T eh salah, TITIK! Jadi, aku pakai buku bekas pelajaran matematika Mas Angga aja, yang isinya tulisan warna merah merekah angka 30 di setiap lembarannya. Artistik sekali!
Aku Bagus Putra Aditama, anak kedua dari Bapak Suryadi dan Ibu Tuti Maya Sari. Nama Aditama itu konon katanya berasal dari kedua orang tuaku, aku juga tidak terlalu mengerti, ADI dan MA benar berasal dari sana. Terus suku kata TA itu dari mana?! #scream Ahh~ hanya Tuhan lah yang tau rahasia namaku. Kakak laki-lakiku adalah Gilang Anggara, dia lebih hitam legam daripada aku, sekarang dia kelas 4 SD. Aku memanggilnya Mas Angga. Mas Angga enggak pernah juara kelas, selalu saja mama marah kalau Mas Angga dapat nilai 30. Tapi menurutku itu keren, Mas Angga mau jadi dirinya sendiri, nggak ikut-ikutan temen yang doyan dapet nilai tinggi padahal aku yakin sebenernya mereka nyontek. Mas Angga tetep kekeuh surekueh dengan pendiriannya di nilai 30. Mas Angga emang hebat! Mas Angga hobi sekali mendengarkan lagu-lagu India, bernyanyi India, nonton film India, hmm… aku curiga dia cuma suka liatin kakak-kakak dengan udel bolong saja. Tidak mungkin Mas Angga seantusias itu. Mas Angga terobsesi oleh Briptu Norman, lagu favoritnya Chaiya-Chaiya.
Aku dan Mas Angga sering sekali dibanding-bandingkan. Memang, secara fisik aku lebih ganteng, lebih oke kerena model rambutku seperti Pasha Ungu sementara Mas Angga dengan wajah pas-pasan dia berambut seperti landak yang kesetrum. Selain itu, orang suka berperilakuan aneh kepada kami berdua, selalu saja memperhatikan fisik! Aku tidak suka. Memang aku akui, keluarga kami memiliki banyak kelebihan… kelebihan di bibir *baca: dower*. Ini semua karena faktor genetika dari Bapak, keluarga dari Bapak memang punya ciri khas seperti ini sejak jaman penjajahan Jepang beberapa tahun lalu. Untung saja mamaku cantik, jadi ada faktor keberuntungan yang terjadi disini, Takdir.
Aku kesal karena hampir menginjak umur 4 tahun, aku belum bisa bilang “R”. Ini susah sekali, lebih susah daripada harus kenalan sama kakak-kakak cantik yang suka main volleyball di lapangan dekat rumah kami. Aku suka wanita yang lebih matang, mereka bisa buat aku mimisan sepanjang hari. Oh iya, aku sebenarnya punya trik untuk bisa dapat kecupan dari kakak-kakak cantik tadi. Cukup pasang muka imyut, dan senyum ke-kakak tadi. Dan tebak apa yang terjadi? YEAH!! RENCANAKU BERHASIL. Maaf ceritanya tidak bisa dilanjutkan, aku kan masih 4 tahun!!??
Aku mau cerita yang lainnya ya…
Sejak kecil, keluarga dan tetangga-tetangga sering memanggilku dengan sebutan Duu… mungkin waktu aku kecil aku belum bisa sebut BAGUS, jadi yang terucap cuma DUU saja. Di umur 4 tahun aku sudah bisa menaklukkannya, dan lancar menyebut namaku sendiri. Tapi orang-orang tidak berubah dan masih saja memanggilku Duu.
Hari minggu biasanya jadwal aku dan keluargaku untuk jalan-jalan, tapi hari ini berbeda. Mama ada urusan pekerjaan. Ya sudah, mau tidak mau aku dirumah bersama Mas Angga dan Bapak. Kita semua memutuskan untuk main PS aja biar bisa memecah keheningan hari ini karena enggak ada hiburan yang berarti. Mas Angga curang kalo main PS bareng. Dia mendominasi keadaan, aku Cuma diberi joystick palsu yang enggak dicolokin ke port PS sama sekali. Emang dia pikir aku bego apa??! Aku berbeda dengan dia, aku lebih jenius! Aku memilih untuk pinjem laptop mama, main game sepuasnya disana. Game paling bagus menurutku adalah Angry Bird. Karena ketika bermain aku berimajinasi bahwa babi-babi ijo itu adalah Mas Angga. Mas Angga langsung melotot dan minta pinjem untuk bisa main game ini. Jelas aku menolaknya, bukannya aku pelit. Aku mau ngasih pelajaran aja buat Mas Angga. Sekalian aja aku kerjai Mas Angga. Kalo mau pinjem, tutup mata dulu dan acungkan jari telunjuk sebelah kanan ke depan. Saat itu juga aku tarik tangan Mas Angga menuju lubang hidungku, dia tersentak dan kaget sambil mencak-mencak. Aku tertawa lepas, kalo kata ABG-ABG di deket rumah LOL. Nah, yang tadi itu namanya jurus “Pencari Harta Karun” yang diajarkan om aku yang paling ganteng Om Anto. Pacar Om Anto ini cantik sekali, keibuan gitu kaya mama aku. Aku suka sekali cerita-cerita sama Tante Ade. Menurutku Om Anto itu cocok sama Tante Ade. Ganteng dan Cantik, sesuailah! :))
Om aku sebenernya ada 1 lagi, namanya Om Rizki. Dia adiknya Om Anto. Dia itu aneh sekali, keteknya bau belacan. Belacan itu nama lainnya terasi kalo di Riau ini. Tapi biarpun begitu aku suka sekali bermain berantem-beranteman sama Om Rizki. Mungkin karena aku pecinta barang-barang antik kali ya makanya aku suka sama Om Rizki, soalnya mukanya lebih antik daripada bajaj tahun 1980an. Dia suka menggangguku kalo aku lagi minum susu. Rasanya aku ingin memasukkannya ke dalam lubang toilet, untung saja aku anaknya manis. Jadi aku bersabar sajalah.
Cerita lainnya akan aku sambung lain waktu ya diary ku… eh tapi nanggung nih aku mau cerita soal cita-citaku. Aku punya cita-cita jadi astronot, bisa pergi ke bulan, main kelereng di bulan. Sungguh hal yang menakjubkan melihat kekuasaan Tuhan. Mungkin Tuhan akan mendengar doaku sehingga aku bisa bekerja sama dengan NASA, stasiun pesawat ulang alik. Yang aku pikirkan adalah, stasiun milik NASA ini apakah sama dengan stasiun kereta api yang kaya di tipi tipi? Ya bisa jadi sama kan? Kalo di kereta api, ada penumpang gelap yang bergantungan seperti kera nyasar di atas gerbong kereta biar dapet gratisan. Nah terus apa ada juga manusia yang nekat bergantungan di luar pesawat ulang alik?? Sungguh ini memang hal yang belum bisa aku jawab. Aku juga ingin doanya Mas Angga dikabulkan Tuhan, Mas Angga bercita-cita bisa pergi ke Jerman bukan untuk belajar karena nilai 30 Mas Angga memang tidak bisa ditoleransi lagi. Mas Angga ingin ketemu Miroslave Klose, striker asal Jerman. Dia ingin jadi pemain bola professional. Cita-cita kami sungguh sangat tinggi. Mama mengajarkan kami hal itu, supaya kami termotivasi menjadi lebih baik ketika dewasa. Kata mama biar bisa membenahi kekacauan negeri. Aku cuma bisa berkata dalam hati ketika mama bilang itu, apa sebaiknya kita benahi dulu kekacauan pada muka Mas Angga, bau keteknya Om Rizki dan nilai 30-nya Mas Angga??!
Walau demikian, aku percaya orang-orang yang berhasil adalah mereka yang masih punya harapan untuk menjadi sesuatu, dan percaya kalau mereka mampu melakukan hal bermanfaat bagi dunia ini. If There is a will, there is a way. *aku nyontek ini dari bukunya orang barat yang namanya susah aku tulis. Bukunya ada di kamar Om Anto.*
Cukup sekian ya cerita dari aku diary, besok-besok kalo ada buku bekasnya Mas Angga aku tulis lagi ceritaku. Aku mau berpantun sedikit nih. Buah nanas buah kedondong, sampai jumpa lagi diary. nih aku punya koleksi foto-fotoku“
Pasha Ungu dengan model rambut trendy
Mas Angga dengan muka penuh beban





3 Response to Diary Duu
wakakak. menghibur sekali ini diarynya Duuu.
tapi hal yg paling tidak bisa diterima adalah pengakuan palsu bahwa Om Anto GANTENG?? Oh My.. itu BOHONG BESAR! muahahah.
saya rasa pernyataan om anto ganteng itu adalah perspektif dari anda sendiri, bukan udut pandang keponakan anda :D #ngacir
kocak bgt, lebih kocak dr ovj, mungkin krna adanya krsamaan penulis dgn sule prikitiew kali...
tapi sepertinya ini kisah seorang bocah yg di eksploitasi nama dan pikirannya oleh seorang om om kumis untuk kepentingan pribadinya...
Post a Comment