Pameran Pendidikan Luar Negeri
Dua hari yang lalu saya dapati informasi dari salah seorang teman twitter soal pameran pendidikan luar negeri. “Hari minggu ini ada acara lho soal pedidikan LN di Jatra”.
Info dari Adhe.
Lalu saya balas via ponsel Nokia yang-saya-lupa-berapa-serinya kalau saya akan datang esok harinya di twitter, kebetulan hari itu adalah Sabtu. Saya baru saja menyelesaikan ujian bahasa Jepang di tempat kursus ‘Tomodachi’ yang kami dapati secara gratis selama 3 bulanan. Kenapa kami? Ya, karena semua yang bergabung 3 bulan awal mendapat les secara gratis dari si empunya kursus. Di tempat kursus ini, kami diajar bergantian oleh native speaker dan sensee asli Indonesia setiap minggunya. Menyenangkan bisa mencicipi beberapa bulan berinteraksi dengan bahasa Jepang, karena saya memang punya mimpi untuk ke Jepang, meski tindakan awalnya yang saya lakukan hanya ikut les bahasa Jepang gratis sodara-sodara #mentalmahasiswa. Sebagai buktinya kalau saya pernah kursus bahasa Jepang, saya mau perkenalkan diri menggunakan bahasa Jepang. 

はじめまして. わたし は テグ-です. Hajimemashite. Watashi wa Teguh desu.
わたし は がくせえ です. Watashi wa gakusee desu.
どおぞ よろいしく おねがいします. Doozo yoroishiku onegaisimasu.
Jangan tanya cara bacanya, karena saya butuh berjam-jam sampai tidak makan untuk bisa mentranslate tulisan hiragana ke romaji #jlebb. Tapi setidaknya hari itu saya sudah melalui ujian di tempat kursus, yang kalau di Bahasa Indonesia-kan ujian ini setara dengan pelajaran anak kelas 1 SD. Masih ingat memori kelam beberapa tahun lalu ketika kamu sampai tereak-tereak baca “INI BUDI, INI IBU BUDI”?! ya seperti itulah 3 bulan pertama kursus yang saya jalani, rasanya juga susah banget. Di kelas yang kebetulan mayoritas peserta kursus adalah teman-teman saya ini selalu heboh dengan saling berebut, tonjok-tonjokan untuk mendapat gelar mayor di Foursqare, lihat siapa mayor di tanggal 9/1/2012…
Anyway, soal jalan-jalan saya ke Hotel Jatra untuk lihat-lihat isi pameran saya mulai dengan janjian bareng Andien dan Weli, keduanya teman kampus saya. Nyampe di lokasi jam 9.25 WIB saya di sms Weli kalau dia tidak bisa datang, mungkin karena harus mengajar mahasiswa baru di kampus tentang Java programming. Baiklah, bagaimana dengan Andien? Alhamdulillah, Andien datang juga. Ini artinya meminimalisir kemungkinan kalau saya harus melongo sendirian dengerin bule ngomong English, sementara saya mungkin Englishnya baru tingkat lomba pidato antar RT. 

“Ayo ndien, udah jam 9.30 nanti kita ketinggalan prediction test IELST-nya”, kata saya yang semangat di pagi dingin minggu (saat pintu Mall sebelah Hotel masih terkunci rapat).
“Iya Guh iya, lewat mana ya? Andien belum pernah ke Hotel Jatra”. Saya pikir jangan-jangan Andien selama ini hanya tahu 2 tempat umum di Pekanbaru ini, pertama kampus, dan yang kedua parkiran kampus. *sama aja kampret!!! kampus juga*.
“Tenang Ndien, lewat sini aja”. Disaat itu juga saya ajak Andien menyeberangi got-got penuh sampah untuk bisa masuk ke hotel sambil bilang “Sepatuku udah pada bolong ndien”. Dia mengangguk kecil, saya rasa dia tidak paham arti perkataan itu bahwa saya minta dibelikan sepatu baru pas ulang tahun nanti.
Dan ternyata benar, pas sampai di hall lantai 5 tempat penyelenggaraan pameran, test IELST sudah dimulai. Jadilah kami harus menunggu sampai jam 11 untuk test periode II.
“Kita ngapain nih ndien menjelang jam 11?”.
“Kesana aja yuk, mana tau aja gratis”. Katanya sambil menunjuk restoran di samping kolam renang ngga jauh dari pintu lift yang kami tumpangi tadi.
Andien memutuskan untuk keliling dari booth ke booth lainnya untuk tanya-tanya soal universitas dan biaya hidup disana. Beliau ini memulai dari The University of Melbourne. Saya? Menolak ajakan Andien untuk berkunjung ke booth ini dan memilih untuk duduk di kursi yang memang disediakan oleh penyelenggara bagi para pengunjung pameran. Alih-alih saya bilang “Ahh… ngga minat, kalau bayar kuliah sendiri mana sanggup ndien”. Padahal dalam hati “SUMPEH LHO?! ENGGA LIHAT APA ITU ORANG BULE, GUE KESANA!? BISA MATI KEDINGINAN KARENA NGGA NGERTI NANTI MAU JAWAB APA”.
Saya mencoba untuk mengalahkan ketakutan akan kebodohan saya ini dengan cek-cek timeline di twitter.
Saya mencoba untuk mengalahkan ketakutan akan kebodohan saya ini dengan cek-cek timeline di twitter. Tidak lama Andien kembali menuju saya. “Tadi tanya-tanya apa aja?” Saya memulai pembicaraan sebelum dia memperoleh tempat duduknya di kanan saya.
“Tanya soal bagaimana tanggapan orang Australi tentang wanita berjilbab disana, kata itu bule mereka cukup bertoleransi kok soal ini”.
“Oh bagus”. Jawab saya sekenanya.
Andien melanjutkan pemaparannya, kali ini beda karena tanpa slide dan baju hitam putih ala-ala seminar hasil skripsweet, “Disana orangnya multicultural, kebanyakan kalo ngga salah dari India. Mahasiswa Indonesianya juga banyak kok Guh. Terus, biayanya itu AUD 12.000/tahun”. Sumpeh ini #jlebb banget kalau mesti bayar kuliah pakai duit sendiri. Ini alasan saya kenapa harus berkutat dengan banyak paper English, voice recorder, dan apa-apa yang berbau English untuk bisa berjuang memperoleh kesempatan yang sama dengan yang pernah orang lain rasakan belajar dan membangun diri di Luar Negeri.
“Btw andien jago banget bisa ngobrol panjang lebar gitu sama bule”. “Siapa bilang? Itu Ibu yang disebelah jadi translator andien untuk ngobrol ke bule”. FINE!!! Saya baru aja kagum sama andien, dan mendadak ada sekumpulan Badak Jawa yang berlari dan nabrakin bokongnya ke muka saya.
Seiring berjalannya waktu, kami sempatkan untuk mengunjungi beberapa booth lagi (kali ini beneran berdua) sebelum memasuki ruang test IELTS. Akhirnya 1 jam berlalu, karena cuma prediction test jadi ya waktunya ngga begitu lama. Kami berdua menaiki lift (dan naik turun nyobain lift #norak), turun ke lantai dasar hotel. Berhubung sudah jam 12 siang, jelas Mall di sebelah hotel sudah buka dengan banyaknya orang wara-wiri melewati pintu mall.
“Guh resto Jepang! Cobain yuk! Ada diskon!!!”, Kata Andien saat baru saja melewati pintu samping hotel yang berbatasan langsung dengan mall. Emang dasar ibu-ibu ngga bisa meleng dikit kalo udah lihat kata "DISKON!!".
“Err~ iya sih. Tapi…”. Sambil lihatin harga makanan yang didiskon menjadi USD $5, dengan porsi cuma sekecil tempat nampung pipis kucing.
“Aih mahal Guh, Andien kan mesti hemat untuk ke Malaysia”. Agak sombong ya kali ini si Andien, terus saya timpalin dengan bilang “Aku udah pernah makan disana kok”. #eaaa padahal engga juga, waktu itu dapat sushi gratis dari tempat makan itu di acara festival Jepang UNRI, dan nyobain takoyaki yang dibeli Aim di acara yang sama. Jadi esensinya… #tsaaahhh #digaplokboby saat kita punya kemauan, saat itu juga kita harus berkomitmen untuk mewujudkannya. Meski dimulai dari hal-hal yang sederhana. 

Langsung update status nih yee... :p
Labels:
challenge,
dreams,
speechless




8 Response to Pameran Pendidikan Luar Negeri
PERTAMAX !!!!!
LANJUTKEUN .... !! *gak tau mau komen apa*
ahh jangan sebegitu pelitlah nulis. skripsi aja sampe bisa nulis banyak tapi disini ngga mau banyakin juga. #eaaa
ak jg sempet kagum sama andien, ternyata ada translatornya, bujug --_--
ayo S2 keluar negeri!!! :D
Muhahahaahahaha Ini judulnya tentang kuliah di luar negeri tapi esensinyaaaa.... *fill in the blank*
Sama kayak aku di pameran yang kalian ajak kemaren. Akunya bengong, si Vina semangat.
Gimana gak bengong, wong isinya jurusan bisnis. -____-
@foreverma : amin. ayo semangat! fight!
@miwwa : err~ ayo bantu aku mengganti judulnya. haha
@greatqo: iya sih, kalo pameran rata-rata emang gitu di sini. fufufu
hhaha..teguhhhh, ngakaakkk abiz aq bacanya... tapi stidaknya hari itu aq mamberanikan diri say hello dgn si Bule australia itu.. haha.. dan ia mengatakan "you nice people".. #pembelaandiri
@andien: Jiahaha! orangnya nongol juga :D
btw aku ngga sempet dapat salam dari om bulenya. ckck. ayo-ayo semangat, masa mau sia-sia nunggu sampe laper di acara testnya :p
Post a Comment