Fenomena Cappucino Cincau
Kalau punya waktu untuk hang-out atau malah kebanyakan punya waktu santai (biasanya mahasiswa tingkat akhir nih), bisa untuk menjelajahi setiap sudut kota Pekanbaru, bisa perhatikan belakangan ini Cappucino Cincau mulai happening. Ada buanyaaaakkkk banget booth yang menjual minuman ini. Ke jalan ini nemu booth cappuccino cincau, ke jalan yang sana ketemu juga, ke WC Guh?! *endas mu*. Saya sendiri udah pernah nyoba (bikin sendiri), kalau harganya sih sekitar Rp.5000 saja. Murah meriah kan? Lumayan, bisa jadi alternatif kalau akhir bulan bokek mesti ngajak gebetan/pacar/keluarga untuk cari sesuatu buat dicicipi.
Cappucino Cincau ( Foto: Tribun Pekanbaru)
Saya seneng aja, dengan adanya cappuccino cincau dengan ide sangat sederhana bisa membuat banyak orang untuk beramai-ramai berjualan cappuccino cincau. At least, banyak orang juga dong yang dapat untung segar dari penjualan minuman segar ini? Jadi, kalau semua orang jualan, siapa yang beli? #PLAK Café pertama yang punya menu minuman ini, kabarnya ada di Jalan Paus. Idenya sederhana dengan eksekusi yang bagus, bahkan sampe menjamur dimana-mana. Fenomenanya hampir sama dengan keripik pedas Mbokicih kali yeee… :D
Dari kacamata saya yang ilmu marketingnya tingkat anak ingusan, dalam membuka usaha bukankah menciptakan trend tersendiri adalah suatu harga yang tidak bisa ditandingi dengan usaha lainnya, apalagi hanya menjadi followers mencoba untuk merebut pasarnya. Oh tidak bisaaa…. Masih ingat dengan ubi presto dengan berbagai rasa yang saya sendiri menggilainya? Pada saat itu fenomena yang terjadi, hampir sama dengan apa yang ada sekarang. Coba tebak berapa lama usaha yang ikut-ikutan dengan menu copy paste itu bisa bertahan? Saya rasa yang namanya usaha followers dan yang tidak kenal dengan strategi differentiating (diferensiasi = perbedaan) dalam usaha, sepertinyanya tidak mungkin bertahan lama. Dengan penerapan diferensiasi, suatu usaha mampu menaikkan nilai jual produknya untuk mampu bersaing. (Differentiating diambil dari materi YEA Simply Marketing – Jaya Setiabudi). Harapan saya sih (buat sendiri juga), walaupun awalnya ikut-ikutan, someday kita lebih cepat sadar kalau untuk membuka usaha yang dibutuhkan tidak hanya modal nekat, tetapi strategi. Asal jangan kelamaan mikir aja, akhirnya usahanya engga jalan-jalan. Good Luck!
Tulisan ini menjadi pengingat untuk saya, karena keinginan punya usaha sendiri yang mampu bersaing masih sangat besar.
Labels:
entrepreneurship






